Bilik Kisah ( Bagian I )
TANGISKU DALAM TIGA TAHUN
Ini adalah sebuah kisah pendek dari perjalanan yang dialami oleh saya sendiri selama bersekolah di SMK. Semoga dapat memetik pelajaran dari cerita saya ini, selamat membaca dan enjoy !
I . SUASANA BARU ( Perkenalan )
Hai, saya adalah Arum Subaningsih yang saat ini memasuki kelas satu SMK ( Sekolah Menengah Kejuruan ) dan kejuruan yang saya masuki adalah Farmasi.
Awalnya saya tidak tau apa itu jurusan farmasi dan karena permintaan orangtua sekaligus beberapa keluarga maka saya harus masuk ke sekolah jurusan farmasi. Mungkin dari sebagian kalian tidak tau apa itu farmasi ya? hehehehe
Farmasi adalah salah satu jurusan dimana jurusan tersebut membahas tentang obat - obatan. Jadi yang saya pelajari di sekolah adalah seputar obat begitu heheheheh
Awal saya masuk itu sangat kaget melihat biaya farmasi sangat mahal sekali apalagi saya dari kalangan menengah kebawah namun keluarga saya tetap meminta saya masuk ke sekolah farmasi maka dari itu saya memilih salah satu sekolah farmasi di wilayah Jakarta Timur yang terbilang harganya masih dibawah standar karena masih banyak sekali harga sekolah farmasi sampai puluhan juta.
Akhirnya saya masuk menjadi siswi di SMK Farrmasi, sungguh aneh rasanya karena pelajaran yang saya dapatkan lumayan banyak yang baru saya ketahui, terlebih guru yang mengajar di SMK juga mengajar di Akademi Farmasi alias dosen jadi pembahasannya agak kurang saya pahami.
Satu semester saya masuk dengan pelajaran, guru , dan juga teman baru saya sangat kesulitan apalagi mayoritas disana anak dari kalangan menengah keatas dan perubahan lingkungan sekolah saya berubah ketika teman sekelas saya ingin mengenal saya lebih jauh jadi beberapa teman sekelas main ke rumah saya.
Betapa kaget teman saya melihat rumah saya yang kecil, terbangun dari kayu dan tripleks terlebih di depan rumah saya itu saya berjualan es warung kecil di emper jalan.
Setelah kedatangan mereka pada saat itu entah mengapa mereka menjauhi saya dan tidak lagi ingin bermain dengan saya. Saya juga sempat menjadi bahan olok beberapa teman sekelas karena saya bau dan miskin. Betapa sakitnya mengetahui bahwa mereka tidak ingin berteman dengan orang yang miskin apalagi lelaki yang sempat dekat dengan saya malah ikut mengolok saya di depan anak anak kelas.
II. Dia yang tidak bisa membawa perubahan
Saat ini saya memasuki semester kedua di kelas satu SMK. Saya masih kuat akan pelajaran namun olokan semakin menjadi bahkan saya terkena bully fisik seperti dikentuti, disenggol saat berjalan bahkan nama saya juga menjadi olokan sampai keangkatan kelas 2 dan 3.
Namun di semester ini saya bertemu dengan pria yang baik. Dia juga sama seperti saya dari kalangan menengah kebawah, dia biasa juga membantu ibu nya berjualan di depan sekolah karena ekonomi dan dia memang anak yatimjuga karena hanya dia satu - satunya lelaki dalam keluarga maka dia membantu ibunya.
Setelah saya mengenalnya lewat bilik dinding kala itu dengan cara surat menyurat akhirnya saya mencoba bertemu sekaligus jalan dengan dia, rasanya seperti diri menemukan udara baru dari sekolah saya itu. Dengan sikap juga tutur bahasa yang baik akhirnya saya menjalin hubungan dengan dia selama beberapa bulan karena semakin lama saya tidak enak hati berhubungan dengan dia.
Entahlah, saya merasa buruk karena perlakuan beberapa anak sekolah yang membully saya jadi saya putuskan untuk meninggalkan dia agar dia tidak malu mempunyai pacar seperti saya ini.
Ya, saya memang menjalani hubungan dengan dia sekitar 8 bulan lamanya namun perubahan tidak terjadi dalam lingkungan sekolah saya malah sampai saya ikut diolok oleh kakak kelas saya.
Sungguh sedih rasanya, sekolah yang saya rasa aman dan nyaman malah seperti ini adanya.
III. TOLONG AKU
Akhirnya saya naik kelas dua, di awal tahun ini diacak. teman yang tadinya satu kelas dengan saya akan dipindah menjadi beberapa bagian dan saya akan berpisah dengan teman sedari kelas satu mau berteman dengan saya.
Dan benar saja, teman saya yang berteman baik dengan saya di kelas satu terpisah dengan saya di kelas dua dan saya malah satu kelas dengan mantan saya. Yaitu lelaki yang sempat dekat namun ikut membully saya dan lelaki yang pernah menjadi pacar saya selama 8 bulan.
Di kelas dua ini semakin tidak enak, rasanya ingin mati dan bunuh diri karena teman sekelas ada yang seperti menyiksa saya seperti menyiram air minum, mengentuti saya, dan pernah menarik kerudung saya bahkan kaki saya harus terluka karena terkena meja yang sengaja akibat dorongan teman sekelas yang tidak suka terhadap saya. Kaki saya yang luka ini diketahui oleh kedua orangtua saya namun saya berkata itu karena terjatuh di sekolah sebab saya yang ceroboh saat berjalan.
Entah harus kepada siapa saya harus meminta tolong dan apa yang saya alami ini tidak saya ceritakan kepada orangtua saya karena saya tau mereka sudah pusing akan masalah ekonomi yang ada, jadi saya cukup tau diri di sini.
Dua tahun di olok dan mendapat perlakuan tidak baik semakin menjadi bahkan saya di tuduh sebagai perebut pacar orang oleh kakak kelas saya. Sebetulnya pacar dia itu hanya kasian terhadap saya jadi beliau selalu membantu saja setiap kesusahan namun saya malah di bully beberapa kakak kelas karena itu.
Kejadian yang tak pernah saya lupakan adalah saya disiram air minum oleh gerombolan tersebut sungguh tidak masuk akal perilaku tersebut.
Saya hanya bisa bercerita kepada teman saya sewaktu kelas satu selebihnya saya tidak mempunyai orang yang layak saya bagi kesedihan seperti ini. Rasanya seperti ingin melompat dari lantai empat sekolahku. Bahkan sudah pernah kejadian saya hampir melompat dari lantai empat sekolahku. Sungguh pemikiran yang sudah buntu mengakhiri segalanya dengan jalan bunuh diri.
Di kelas dua ini saya sering sekali bermain di stasiun entah melepas penat atau kesedihan karena di tempat ini saya memiliki beberapa teman yang sangat asik terlebih saya juga dekat dengan satu pria yang saya rasa bisa memberikan saya kebahagiaan.
setelah lama saya berhubungan akhirnya saya yakin bahwa pria ini yang saya kenal satu komunitas kereta api bisa membawa perubahan lebih baik di hidup saya dan benar saja saya menjalin hubungan dengan bertahun lamanya.
IV. UJUNG KESEDIHAN ( Kembali pada keluarga dan hanya keluarga )
Tak terasa akhirnya saya naik ke kelas tiga, saya pikir malah saya tidak akan naik kelas karena nilai saya yang sangat menurun namun mungkin Allah memberikan jalan yang baik sampai saya naik kelas 3.
Oh iya, saya juga masih menjalani hubungan dengan pria yang saya kenal di stasiun kala itu namun keluarga ku tak merestui karena dia belum mempunyai pekerjaan tetap padahal saya dengan dia berbeda 6 tahun.
Saya pikir dengan naik kelas 3 kekerasan dan olokan berakhir namun lebih parah saya mendapat perlakuan sangat tidak baik. Akhirnya pembullyan di 3 tahun ini diketahui oleh orangtua saya ketika saya dijemput oleh ayah saya. Pada saat dijemput ayah saya melihat saya sedang di senggol dengan beberapa anak sampai saya terjatuh. Dari situ saya cerita semua kejadian selama di sekolah dan ayah sayang langsung ingin melapor ke pihak yang berwajib namun saya menentang dan memohon agar dimaafkan saja mereka yang bersikap tidak baik terhadap saya.
Akhirnya saya menangis dihadapan kedua orangtua saya dan berpasrah diri atas kejadian 3 tahun di sekolah yang menimpa saya.
Setelah lamanya belajar di sekolah tersebut akhirnya kelulusan tiba dan saya mengundang pria yang sempat ditentang hubungan dengan saya. Alangkah terkejut saya bukannya direstui malah ayah saya sangat membencinya karena tau saya dengan dia masih menjalani hubungan dengan bertahun lamanya.
Semenjak itu saya merasa menjadi anak yang durhaka namun tetap saja saya masih menjalani hubungan dengan diam - diam dan pada suatu ketika pria ini berubah menjadi kasar terhadap saya. Apapun yang ia tidak suka maka ia akan menentang, hiper sekali cemburunya sampai saya dilukai fisiknya.
Mulai dari sana saya sadar akan perkataan orangtua saya bahwa pria ini tidak baik untuk masa depan saya. Walau saya anggap ia memberikan kebahagiaan namun itu hanya sesaat karena nyatanya ia masih belum memiliki pekerjaan padahal saya sudah memiliki pekerjaan pada saat itu. Sungguh tidak saya pikirkan bahwa pria tersebut bisa sekasar itu kepada saya.
Akhirnya saya sadar, pada dasarnya orangtua mempunyai maksud yang baik untuk anaknya dan saya pun mengakhiri hubungan saya dengan pria tersebut karena sudah tahap keterlaluan.
TAMAT
Begitulah dari penggalan kisah atau cerita pendek diatas yang diambil dari kisah nyata saya.
Saya berpesan kepada pembaca blog ini agar tidak melakukan kekerasan verbal maupun non verbal terhadap siapa pun walau niat hanya bercanda. Kalau memang bercanda pun tolong perhatikan apakah itu berlebihan atau tidak karena jika kita tidak menjaga perkataan atau cara kita bercanda itu akan menyakitkan orang lain. Ya alhamdulillah kalau orang tersebut kuat lah kalau tidak ? bisa berujung kematian dan satu lagi pandailah memilih pasangan, jujur lah kepada orangtua karena ridho orangtua adalah ridhonya Allah.
Komentar
Posting Komentar